DERMAGA atau Pelabuhan Manado terletak di sebelah barat Kelurahan Calaca, atau tepatnya di samping Pasar Bersehati Manado. Dulu, lokasi ini merupakan muara dari Danau Tondano, dan menjadi pemukiman dari penduduk “walak Manado”.

Pada zaman Belanda, muara Danau Tondano ini ditimbun dengan galian tanah di wilayah sekitar Kelurahan Calaca sekarang. Dan, karena itulah, muara Danau Tondano berpindah mengalir – Sekarang dikenal sebagai kuala Jengki. Kata “Jengki” berarti: “Penampilan Baru”. Kini, kuala (kali) Jengki telah dibelah oleh Jembatan Soekarno, yang megah berdiri; menjadi icon baru Manado.

pelabuhan manado masih ramai
pelabuhan manado masih ramai

Dulu, ada sebuah lokasi pemukiman dekat Pelabuhan Manado yang terkenal di tahun 90-an, yaitu Kampung Texas. Nama Kampung Texas terilhami dari sebuah film top akhir tahun 60-an yang diputar di Bioskop Benteng (seberang Sahid Kawanua Hotel), berjudul: Texas Adios, diperankan oleh Franco Nero. Bioskop Benteng ini berjarak ratusan meter saja dengan Jumbo Pasar Swalayan, dan Kampung Texas Manado.

film texas adios, pemeran utama franco nero
film texas adios, pemeran utama franco nero

Tak lama setelah pemutaran film Texas Adios, nama Kampung Texas pun eksis; itu sekitar tahun 70-an. Jauh sebelum itu, di jaman pemerintahan Belanda, kawasan sekitaran kampung ini masih bernama “Kampung Haven” (Bhs. Belanda, artinya: Pelabuhan atau Bandar). Bandar dalam dialek Manado, menjadi “Bendar”.

Kampung Texas masa itu dikenal sebagai salah satu kampung yang rawan di Manado. Rawan, karena konon, banyak tindak kriminal terjadi, dan sejumlah preman yang bermukim di sana. Bagi kita yang hidup di era itu, mendengar nama Kampung Texas terucap, sudah cukup membuat napas terhenti sedetik, dan bikin nyali ciut.

Kini, lahan eks Kampung Texas, rencananya akan dijadikan Graha Religi Manado, sebagai simbol kerukunan antar umat beragama di Kota Manado. Di tengah kawasan bekas Kampung Texas ini berdiri Masjid Al Khairiyah, yang telah direnovasi, dan dipertahankan eksistensinya sampai sekarang.

Terkait Graha Religi Manado di eks Kampung Texas Manado, menurut Wali Kota Manado GS Vicky Lumentut, pembangunannya akan segera dilakukan pada bulan April 2017. Maksud pembangunannya, untuk meredam isu SARA dan demi terwujudnya kerukunan antar umat beragama di Sulawesi Utara, khususnya di Kota Manado.


ex kampung texas manado
ex kampung texas manado

Kampung Texas berada di antara Bendar dan Jumbo Pasar Swalayan. Jumbo, menjadi swalayan pertama, terlengkap dan termegah saat itu. Posisi Jumbo berada sangat dekat dengan Tugu Pendaratan Batalyon Worang. Dari tugu monumenal itu, pintu gerbang menuju Kawasan Pasar 45 pun sudah sangat dekat.

Di tahun 90-an, usai jam bubaran sekolah, Jumbo menjadi tempat nongkrong anak-anak sekolah. Mereka asyik masuk-keluar untuk sekadar melihat-lihat barang di etalase, atau makan-minum di lantai dua-nya, atau bahkan sekadar ngeceng dan duduk santai di tangga masuknya yang berwarna putih, sembari gratis mendengar lagu-lagu hits barat yang sengaja diputar kencang oleh sang operator.

Bangganya berseragam putih abu-abu ketika itu, yang nyantai di Jumbo Pasar Swalayan – Saya salah satu di antara anak sekolahan itu, hahaha… 

jumbo-pasar-swalayan-manado
jumbo pasar swalayan pertama di manado

Istilah Bendar pada masa itu, tak sekadar merujuk pada Pelabuhan Manado saja, tetapi arti dan cakupannya menjadi luas. Luas, karena ketika orang Manado bilang “mau ke Bendar” itu sama artinya ia “mau ke pusat kota Manado”. Pusat kota yang dimaksud adalah, sekitaran “stasion” (stasiun), yaitu tempat mangkalnya angkutan kota Manado, tepat di depan Jumbo, Kampung Texas, dan puluhan pertokoan aneka dagangan yang berjejer rapat di seberang Jumbo.

Pada waktu itu, Bendar, Stasion, Jumbo, Hoya, President Plasa, Shopping Center, dan kemudian: Taman Kesatuan Bangsa (sebelumnya, warga menyebutnya dengan “Pagar Besi”) menjadi meeting point warga Manado untuk berjumpa dengan teman, pacar, dan kerabat; untuk selanjutnya beraktivitas belanja dan mencari hiburan, untuk sekadar JJS (Jalan-Jalan Sore), atau untuk bermalam mingguan dalam suasana kota yang indah dan damai.

Taman Kesatuan Bangsa Manado
taman kesatuan bangsa manado

Pelabuhan Manado masa kini masih melayani kapal-kapal berukuran kecil. Hal ini karena dangkalnya perairan, dan lokasi pelabuhan yang dekat dengan destinasi wisata Taman Laut Bunaken. Pelabuhan Manado menjadi dermaga untuk Speedboat dari dan menuju Bunaken.

Kapal-kapal berukuran besar milik PT. Pelni tidak berlabuh di sini. Kapal-kapal tersebut berlabuh di Pelabuhan Bitung, yang berjarak 40 km sebelah timur kota Manado.

Pelabuhan Manado merupakan pelabuhan reguler bagi kapal-kapal menuju ke Ternate, Kabupaten Sitaro, Kabupaten Sangihe serta kepulauan lainnya.

Pelabuhan Manado pernah diusulkan untuk dipindahkan ke Bailang, Kecamatan Bunaken, karena tata letaknya yang terlindung dan aman. Rencananya, fungsi Pelabuhan Manado akan dikhususkan sebagai pelabuhan wisata, untuk menuju ke Bunaken, Siladen, dan Manado Tua. [CT]

 

 

foto dari berbagai sumber

 

 

Lihat pula:

Jumbo Pasar Swalayan

Pelabuhan Bitung, pelabuhan alam terbesar di Sulut

Cara ke Bunaken ala Backpacker

 

 

Bagikan:

Calvyn Toar

Digital Marketer, SEO-SMO Expert, Content Creator, Web Developer, Ghostwriter, Political Marketing Strategy, Trader | driven by heart | 0881 0244 23948 (WA only) "Sepanjang masih hidup & kuatnya ikhtiar, anda bisa berubah untuk maju; anda dapat lakukan apapun yang anda mau, & menjadi apapun yang anda ingin jadi" (calvyntoar/jan 2016)

Tinggalkan Balasan

Close Menu
Klik disini
1
Mau Bertanya?
Hi, ayo bertanya :)
Powered by