Jembatan Soekarno kini menjadi salah satu icon baru di tanah Toar Lumimuut. Jembatan yang membelah kali Jengki ini menjadi penghubung antara bagian utara dan selatan kota Manado.

Ide awal pembangunan jembatan ini datang dari Gubernur E.E. Mangindaan, dan didukung oleh Ir. Lucky H. Korah, Walikota Manado, dengan nama awal Jembatan Nyiur Melambai, adalah sebagai bagian dari grand design area pariwisata di sekitar Kompleks Pasar 45. Namun, upaya lobi dan kerja keras dari Wempie Frederik (Walikota 2000-2005), waktu itu yang membuat pembangunan jembatan ini dimulai tahun 2003. Upaya Wempie Frederik bersama wakil Walikota, Teddy Kumaat, nama Jembatan Soekarno muncul, dan langsung disetujui Megawati Soekarnoputri.

jembatan soekarno, di malam hari
jembatan soekarno, di malam hari

Icon baru ini sempat mangkrak selama 12 tahun, karena kendala keuangan dan masalah teknis, yaitu struktur tanah yang unik, membutuhkan penanganan khusus, meskipun kontraktornya waktu itu sekaliber PT. Hutama Karya (Persero). Penguatan pondasi dan kabel penyangga menjadi salah satu fokus utama kala itu.

Panjang Jembatan Soekarno 1.127 meter dan lebar 17 meter. Menelan anggaran Rp 300,28 miliar. Proyek ini didanai dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Proyek besar ini sekarang telah menjadi kebanggaan warga Manado. Banyak turis domestik dan mancanegara datang melihat dan melintasi jembatan ini. Pemandangan Pulau Manado Tua dengan gunung yang menjulang di tengah-tengah laut Teluk Manado, begitu indah terlihat. Nuansa indah menakjubkan juga terlihat di malam hari manakala lampu-lampu jembatan menyala. Wow, sungguh aduhai… Karena itulah, bagi warga kota, Jembatan Soekarno menjadi spot baru untuk ber-selfie ria, dan bersantai bersama kawan.

Jembatan Soekarno kini telah megah berdiri mempercantik Bumi Nyiur Melambai, dan melengkapi landmark kota lainnya, Jembatan Megawati. (CT)


Lihat film Senjakala di Manado yang juga syuting di jembatan ini!


img: James Kaawoan, merdeka.com, tribunnews.com, manadoline.com