JALAN Roda atau oleh warga Manado disebut juga dengan Jarod, terletak di pusat Kota Manado. Eksistensi Jarod sebenarnya sudah lama ada, bahkan sebelum Perang Dunia I dan II. Kala itu, oleh penduduk yang berdiam di pedalaman Minahasa, kota Manado disebut dengan “Wenang”. Manakala orang Minahasa (baik dari arah Tomohon, Tonsea, Tanawangko, dan Wori) hendak datang ke Wenang untuk menjual bahan-bahan hasil bumi, alat transportasi yang mereka gunakan pada saat itu adalah pedati. Pedati atau gerobak ini ditarik oleh sapi atau kuda. Dalam bahasa lokal, pedati, saat itu sampai sekarang disebut dengan Roda. Nah, bahan-bahan hasil bumi itu diturunkan di Jalan Roda, yang waktu itu berfungsi sebagai stasiun Roda (pedati). Lokasi Jarod berdekatan dengan pasar besar yang dinamakan Pasar Minahasa, yang kemudian disebut dengan Shopping Center atau Kawasan Pertokoan Pasar 45. Kawasan ini adalah pusat bisnis tertua dan masih yang tersibuk di Manado hingga sekarang.

suasana ramai di jalan roda manado
suasana ramai di jalan roda manado

Di Jarod-lah, terjadi interaksi antara orang Minahasa (dulu, disebut dengan orang gunung, karena umumnya bermukim di daerah yang lebih tinggi) dan warga lokal, Wenang, yang kala itu telah terdiri dari multi-kultural (ada orang Minahasa, Sangir, Gorontalo, Tionghoa, Arab, ada penganut Islam, Kristen, Budha, Konghucu). Bisa dibilang, dari sinilah, bahasa/dialek Manado tercipta. Bahasa yang khas, yang tercipta dari percampurbauran bahasa dari berbagai etnis, suku dan ras.

Ramainya stasiun Roda tempo itu membuat bisnis pendukung tumbuh. Pada sekitar tahun 1950an, sudah ada penginapan yang bagus milik orang Tionghoa yang bernama Celebes, berdiri di sudut Jarod. Di penginapan inilah, orang-orang dari luar kota menginap. Bisnis warung makan dan kedai kopi pun muncul.

Zaman berubah. Kemajuan kota yang pesat, akhirnya meniadakan keberadaan roda di Jalan Roda. Tapi, Jalan Roda tetap lestari menjadi salah satu meeting point warga.

Oleh pemerintah kota, Jalan Roda tidak diubah secara signifikan. Yang saya ingat terakhir, sewaktu masih duduk di bangku SMA, 25 tahun lalu, kawasan Jarod berbentuk “L”. Diujung Jarod, yang tembus ke Jalan Serimpi (Jl S. Parman), berderet toko kelontong, dan di depan gerbang masuk Jarod, berhadapan langsung dengan Jalan Walanda Maramis; di area ini banyak terdapat toko elektronik dan toko emas.

Tak jauh dari kawasan Jalan Roda, yang mengarah ke titik nol kota Manado, terdapat salah satu pusat hiburan kota ini dulu, yaitu Presiden Plaza. Beragam toko ada di situ, dari toko pakaian, toko buku dan game zone. Bioskop Presiden, salah satu bioskop top masa 90an juga ada di sini.

seduh kopi di jalan roda manado
seduh kopi di jalan roda manado

Jarod kini, telah diberi roof memanjang memenuhi seluruh area. Dan, puluhan rumah kopi berjejer rapi di sana. Puluhan meja kayu sederhana berukuran 1×2 meter, dipadukan dengan kursi plastik warna-warni, ditata merapat di sisi kiri dan kanan, sehingga ada area kosong di antaranya. Sengaja demikian, agar pengunjung dapat leluasa wara-wiri. Kini, oleh Pemerintah Kota Manado, Jarod telah dijadikan sebagai destinasi wisata kuliner.

Flashback ke masa 90an, seingat saya, Jarod adalah tempat berkumpulnya orang-orang biasa, pelajar, calo, makelar, para seniman, budayawan, jurnalis, pebisnis dan bahkan para pemikir. Pokoknya, semua kalangan dan profesi gampang ditemui di sini. Sembari menyeruput kopi, perbincangan lepas dan hangat terjadi. Diselingi canda dan gelak tawa, beragam topik dibicarakan. Dari soal remeh-temeh sampai yang sangat serius; dari topik bisnis kecil-kecilan, seperti menawarkan pakaian, batu mulia, hingga komponen kapal terbang. Tak hanya itu, pembicaraan soal-soal politik, dari isu lokal sampai nasional pun, seru dikupas tuntas di sini. Uniknya, tidak ada emosi tercipta lalu berkelahi lantaran beda persepsi. Yang ada, semua happy. Semua puas. Puas dengan kopi-nya, suasananya, keseruan percakapan, dan bertemu banyak kawan.

 

gita wirjawan di jalan roda manado
gita wirjawan di jalan roda manado

Ternyata, sekarang pun masih begitu. Jarod menjadi salah satu spot rendezvous Manado. Dari orang biasa, pelajar, pebisnis, politisi sampai pejabat lokal dan nasional datang ke sini. Menurut penuturan salah seorang pemilik kedai kopi, beberapa tokoh nasional pernah mampir di Jarod, yaitu Yusril Ihza Mahendra, Wiranto, Hazim Muzadi, Yenny Wahid, Gita Wirjawan, dan musisi legendaris, Iwan Fals. Banyaknya tokoh politik setempat yang yang datang ngopi sembari berdiskusi di Jarod, tentu saja melahirkan ide-ide dan bahkan keputusan politik, maka oleh warga, Jarod mendapatkan julukan sebagai DPRD Tingkat III.

Di Jarod tidak hanya tempat hangout. Acapkali, kawasan ini menjadi tempat sosialisasi program-program pemerintah kota. Para calon kepala daerah dan calon legislatif pun selalu menyampaikan visi dan gagasannya di sini. Seolah-olah belum afdol kalau para politisi ini belum menyambangi Jalan Roda.

[lockercat]Sebenarnya apa yang membuat orang betah bahkan kecanduan nongkrong di Jalan Roda? Apakah karena kopinya yang istimewa sekelas Starbucks Coffee? Nyatanya, kopi yang disuguhkan di sini adalah kopi bubuk biasa. Tapi yang membedakannya dengan kopi yang kita buat sendiri adalah pada cara seduhnya. Kopi di sini diseduh dengan cara dijerang dalam saringan kain yang ditaruh di ceret kuningan, dan dipanaskan di atas bara arang sampai kopinya matang. Mungkin inilah yang mendorong para pengunjung berbicara semakin lama semakin hangat, karena hawa panas dari perapian yang terus menyala, menyebar seantero Jarod. Uhh…[lockercat]

menu jalan roda manado

menu jalan roda manado


Bagi pengunjung yang sering datang ke Jarod, ada beberapa istilah dan kode tertentu yang tak asing lagi di sini, seperti: “Kopi Lombo” artinya kopi yang encer. “Kopi Stenga” artinya kopinya sedikit saja atau hanya setengah gelas. “Minta kopi stenga,” bisa pula tanpa bicara. Cukup dengan kode jari, yaitu dengan mengacungkan jari telunjuk dan ujung jempol yang dilekatkan di ruas kedua jari telunjuk. Hmm… Kopi stenga juga berarti membayar dengan setengah harga; harga kopi per gelas Rp. 5.000, cukup dibayar Rp. 2.500.

Selain sajian kopi, makanan lainnya seperti tinutuan, rica roa, pisang goreng goroho, mie cakalang disuguhkan panas-panas dan pidis-pidis (pedas), dengan harga yang sangat murah. Bagi yang non Kristen, anda tak usah kuatir, karena semua yang dijual di sini, halal. Para pedagang di sini berasal dari beragam etnis, suku dan agama.

Sobat, jika anda penikmat kopi, anda belum menjadi penikmat kopi sejati jika belum mampir di Jalan Roda, Manado!

Lihat Jalan Roda Manado via Google Street View

Zaman boleh berubah. Kafe modern dan Coffee House menggeliat pesat di Manado. Tapi, bagaikan roda, bisnis kedai kopi di Jalan Roda tetap berputar, karena kesederhanaan dan keunikannya. Berputar tanpa melihat status. Tak peduli suku mana, agama apa, dan dari mana anda! Dijamin, anda akan diterima baik di sini…

Jalan Roda Manado memang unik. The one and only. Jarod adalah manifestasi dari unity in diversity (menyatu dalam kepelbagaian); beragam suku, etnis, agama, kepentingan dan gagasan menyatu dalam kedamaian yang mencipta toleransi dan harmoni kota tercinta, Manado. [CT]

 

foto: james kaawoan, internet


Baca juga:

Rumah Kopi Gembira Kawangkoan

Rumah Kopi Koffie’s Sario Manado

 

Calvyn Toar

Digital Marketer, SEO-SMO Expert, Content Creator, Web Developer, Ghostwriter, Political Marketing Strategy, Trader | driven by heart | 0881 0244 23948 (WA only) "Sepanjang masih hidup & kuatnya ikhtiar, anda bisa berubah untuk maju; anda dapat lakukan apapun yang anda mau, & menjadi apapun yang anda ingin jadi" (calvyntoar/jan 2016)

Tinggalkan Balasan

Close Menu
Klik disini
1
Ada pertanyaan?
Hi, ayo bertanya :)
Powered by